Wisata Kosong Makna

28
 
Share :

Oleh: Edi Danggur SH. MH. MM

Kota pendidikan itu terletak di bawah kaki sebuah bukit. Udaranya sangat dingin. Tetapi bersih. Jauh dari polusi! Itulah Kota Pelesina.

Maka, berwisata ke pantai, tentu sebuah kemewahan bagi pelajar di Kota Pelesina itu. Sebab dengan begitu, mereka bisa sesekali menikmati udara panas.

Itulah yang terjadi pada Senin 12 Juni 2017. Anak-anak SMP yang tinggal di Asrama Putera “Asylum” berwisata ke pantai, 80an kilometer ke luar kota.

Bruder Athanasius, kepala asrama itu, ikut memimpin rombongan wisata pantai tersebut. Mereka menumpang sebuah bis wisata yang besar.

Sebelum masuk ke dalam bis wisata, Bruder Athanasius memberikan arahan. Katanya, tujuan wisata bukan sekedar menikmati pemandangan pantai yang indah, dengan udaranya yang panas. Tetapi ini yang juga penting: anak asrama bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.

Semua menganggukkan kepala di hadapan bapa asrama. Asumsi umum, semua materi arahan bapa asrama dipahami.

 

Berebut Tempat Duduk

Bis wisata pun mulai melaju ke arah pinggiran kota. Pelan-pelan meliuk di jalan berpemandangan indah: danau, gunung, padang hijau, hamparan sawah, dan sungai.

Namun, semua pemandangan itu tidak terlihat oleh anak-anak asrama ini. Sebab sepanjang perjalanan, mereka lupa membuka tirai jendela bis wisata itu. Mereka tidak tahu keindahan seperti apa yang ada di balik tirai jendela.

Mengapa lupa? Sebab sepanjang perjalanan, mereka terus bertengkar tentang siapa yang akan duduk di kursi kehormatan dalam bis.

Tidak cukup itu saja. Mereka juga bertengkar tentang siapa yang akan dapat pujian. Siapa pula yang pantas dihormati diantara mereka.

Demikianlah kelakuan anak-anak asrama itu sampai perjalanan itu berakhir. Bruder kepala asrama itu hanya diam, berusaha memahami perilaku anak-anak SMP yang diasuhnya itu.

 

Pemujaan Diri

Setelah lelah berenang dan jalan-jalan sepanjang pantai, sang kepala asrama mengajak anak-anak asrama itu melakukan refleksi kecil.

Bruder Athanasius menanyakan apa kesan anak-anak asrama itu sepanjang perjalanan. Mereka semua diam. Tak ada kata-kata yang bisa mereka ucapkan.

Bapa Asrama pun mulai “berkotbah”. Hidup itu indah jika kita mau membuka mata untuk melihat berbagai keindahan di luar diri kita.

Tetapi sebaliknya, hidup itu penuh kegaduhan karena kita sibuk dalam upaya pemujaan diri, promosi diri, merasa diri disetujui, diterima dan karenanya patut disanjung.

Perasaan-perasaan itu terkontaminasi oleh hasrat, getaran, gairah yang menghasilkan kekosongan: ketenaran, popularitas, kekuasaan, seperti perilaku dalam bis perjalanan wisata.

Padahal tujuan kita berwisata bukan di situ. Dengan berwisata, kita seharusnya memenuhi jiwa dan perasaan kita dengan keharuan yang mendalam akan ciptaan Tuhan.

Keharuan dalam keindahan matahari saat terbenam dan terbit keesokan harinya, dalam pemandangan indah: gunung, padang hijau dan sungai yang ada di sepanjang perjalanan wisata kita.

Tetapi selalu jadi soal dalam hidup kita adalah kita selalu menutup mata, hati dan pikiran kita karena kita sibuk dengan upaya promosi diri untuk meraih kehormatan, posisi dan kuasa.

 

Getaran Pelayanan

Hidup ini seharusnya diisi dengan getaran gairah melayani agar kita menjadi berkat bagi sesama dalam panggilan hidup kita masing-masing.

Kita harus menyadari panggilan hidup kita masing-masing, tidak dalam gambar besarnya, tetapi dalam gambar kecilnya yang sederhana.

Tidak perlu mencoba memperoleh dan menguasai dunia kalau ternyata dalam prosesnya kita menjalani kehidupan yang kosong dan tidak berjiwa. Seperti kata Sang Guru: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”.

 

Penulis adalah Dewan Redaksi PadarNews.com

Komentar