Mengenal Lebih Dekat Kampung Tradisional Bena (Bagian II)

62
Penulis: Adrian Ramos
Editor: Alex
Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten Bajawa, NTT
Share :

Oleh: Adrian Ramos, Wartawan www.padarnews.com

Secara geneologis, kampung Bena dihuni oleh 9 (sembilan) klan atau woe, dengan masing-masing woe terbagi secara hirarkis ke dalam tiga subklan dengan tugas dan kewajiban menjaga dan memelihara segala warisan leluhur terutama tiga rumah (sa’o) pokok yaitu sa’o peka pu’u (rumah keluarga inti leluhur perempuan), sa’o peka lobo (rumah keluarga inti leluhur laki-laki) dan sa’o wua gha’o (rumah keluarga inti keturunan leluhur perempuan dan laki-laki) dari klan yang bersangkutan.

Tampilan fisik dari rumah-rumah pokok tersebut secara garis besar hampir tidak ada perbedaan satu sama lainnya. Hanya ada beberapa penanda khusus yang dapat membedakan antara sa’o peka pu’u dan sa’o peka lobo. Pada sa’o peka pu’u ada simbol rumah kecil di atas bubungan atau atapnya yang disebut ana iye. Sementara penanda pada sa’o peka lobo ditempatkan orang-orang di atas bubungannya yang disebut ata. Sedangkan pada sa’o wua gha’o, tidak terdapat tidak diberi simbol tertentu sebagai penandanya.

Kampung Bena/photo Adrian Ramos

Sedana dengan Lambertus, Fridus Soka yang bertugas sebagai pemandu dalam perjalanan menuju kampong Bena menjelaskan, perbedaan nyata dari ketiga rumah pokok tersebut dapat diketahui bila kita menelusurinya lebih jauh terutama menyangkut ukuran dari rumah-rumah pokok tersebut, dengan ukuran-ukuran tradisional.

Kampung Bena

Ukuran yang umum dipakai untuk membedakan sa’o peka pu’u, sa’o peka lobo dan sa’o wua gha’o adalah dengan mendepa yang dikenal dengan istilah lokal zepa. Ukuran-ukuran tersebut ditentukan pada saat pembangunan rumah-rumah yang bersangkutan yang dilakukan oleh orang tertentu dan merupakan keturunan lurus dari para leluhur pemilik rumah yang akan dibangun, dalam sebuah upacara khusus yang disebut ka zepa (upacara penentuan ukuran sa’o).

Berbagai ukuran yang dikenakan untuk masing-masing sa’o inti tersebut adalah ukuran tradisional dengan cara mendepa sebagai berikut; (1) sa’o peka pu’u; berukuran zepa zua ne’e roka iki, yakni dua kali mendepa ditambah dengan dua jengkal dari ujung jari ke arah pangkal lengan, (2) sa’o peka lobo; berukuran zepa zua ne’e tuka poma yakni dua kali mendepa ditambah dengan pertengahan telapak tangan dari ujung jari tengah, dan (3) sa’o wua gha’o; berukuran se zepa ne’e pake dh’eke yakni satu kali mendepa ditambah dengan sebatas lengan besar dari ujung jari tengah.

Keberadaan ketiga sa’o pokok/inti tersebut dihubungkan dengan ketiga simbol personifikasi leluhur yang diyakini sebagai para pemilik awal dari sa’o-sa’o yang ada sekaligus sebagai cikal bakal  atau orang-orang pertama pembentuk woe (klan) yang besangkutan.  Ketiga simbol kehadiran leluhur dimaksud adalah  bhaga, ngadhu dan peo.  

Dalam konsep pamahaman budaya masyarakat Bena ataupun Ngadha pada umumnya, bhaga sebagai leluhur asal perempuan dari suatu woe atau klan selalu digambarkan sebagai seorang “tokoh” perempuan dengan penyebutan nama tertentu (nama perempuan) dalam rangkaian kata yang menunjukan identitas keperempuanan yakni “ine” (ibu yang melahirkan) ataupun seorang perempuan yang memiliki sikap atau peran keibuan dan memiliki sa’o asalnya yakni sa’o saka/peka pu’u. Peran keibuan sang bhaga juga digambarkan secara figuratif naturalistik dengan ungkapan “ine sa susu mite” (ibu yang bersusu hitam).

Ungkapan tersebut dipahami bahwa “susu mite” (menunjuk pada puting susu yang berwarna hitam) merupakan tempat khusus dan istimewah pada tubuh perempuan (ibu) sebagai sumber kesuburan dan kemurnian yang senantiasa memberikan daya kehidupan kepada manusia-manusia baru yang dilahirkannya. Keseluruhan tugas dan peran seperti gamabaran pemahaman di atas terlukis dalam ungkapan “ine sa susu mite, da mori polu ne’e pagha, susu leu ba pale wana” (ibu yang bersusu hitam, yang telah memelihara dan memberi makan, dengan menyusui dari dirinya sendiri baik kiri maupun kanan).

Sementara itu, ngadhu sebagai personifikasi leluhur asal laki-laki juga digambarkan sebagai seorang tokoh laki-laki yang juga diberi nama tertentu (nama seorang laki-laki) dengan sa’o miliknya yakni sa’o saka/peka lobo. Peran bapak tersebut senantiasa dirangkaikan dengan kata penunjuk khusus terhadap salah satu peran laki-laki yakni “ema” (bapak). Peran tersebut umumnya dinyatakan dengan ungkapan “ema sa lalu toro” (peran bapak yang dilukiskan sebagai ayam jago merah yang gagah perkasa) dan “ema da mori mesa” (bapak yang telah membuahi dan menetaskan).

Semua tugas dan peran yang dimainkan oleh para leluhur perempuan (bhaga) dan leluhur laki-laki (ngadhu) dapat diwujudkan secara baik hanya melalui dan dengan kesucian/kemurnian/kesempurnaan serta kemauan yang kuat untuk terus mencari dan menggapai kesempurnaan tertinggi yakni dewa.

“Kesucian/kemurnian/kesempurnaan biasanya dihubungkan dengan peran ibu leluhur asal perempuan (bhaga) yang biasa tergambar dalam ungkapan tentang bhaga “ana sawa ba’a- au lewu bhaga, sawa da ba’a to’o-pu’u  go logo da milo olo”. Secara harafiah ungkapan ini dapat diterjemahkan menjadi “anak sawa yang semula tertidur di bawah bhaga, kini telah bangkit berdiri dengan tetap bersandarkan kesucian dari asalnya,” katanya.

Sawa atau anak sawa dalam kehidupan masyarakat Bena dan Ngadha umumnya adalah sejenis binatang melata (ular) berjengger seperti jengger ayam. Sawa dianggap sebagai binatang suci yang dapat memberikan keuntungan atau ramalan atas kehidupan bagi orang yang menemukan/melihatnya. Tempat tinggalnya selalu dalam tanah, dan oleh karena itu sawa selalu identik dengan tanah atau bumi. Dalam konteks pengertian ini maka tanah atau bumi adalah suci, karena dari tanahlah mengalirlah air dan tumbuhnya berbagai tanaman yang memberikan kehidupan.

 

Komentar