NPI Triwulan II 2017 Surplus US$0,7 Miliar

7
Penulis: Eko Cahyo
Editor: Alex M
Ilustrasi
Share :

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II 2017 mencatat surplus sebesar US$0,7 miliar. Hal ini ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan.

Direktur Eksekutif  Departemen Komunikasi BI, Agusman menjelaskan surplus NPI tersebut mendorong peningkatan posisi cadangan devisa dari US$121,8 miliar pada akhir triwulan I 2017 menjadi US$123,1 miliar pada akhir triwulan II 2017.

“Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,6 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional,” ujarnya.

Dia menjelaskan, surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh kuatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia seiring pencapaian investment grade.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2017 mencatat surplus US$5,9 miliar didukung oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio.

Surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan I 2017 sebesar US$8,0 miliar maupun surplus pada triwulan II 2016 sebesar US$6,9 miliar.

Lebih rendahnya surplus disebabkan oleh meningkatnya defisit investasi lainnya, terutama kebutuhan untuk pembayaran utang luar negeri serta antisipasi perbankan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas perbankan yang bersifat temporer dalam menghadapi libur panjang lebaran.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat lebih besar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer.

Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2017 tercatat sebesar US$5,0 miliar (1,96% PDB), meningkat dari US$2,4 miliar (0,98% PDB) pada triwulan I 2017, namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan defisit pada triwulan II 2016 sebesar US$5,2 miliar (2,25% PDB).

Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas disebabkan oleh turunnya ekspor nonmigas di tengah tingginya impor nonmigas, baik bahan baku dan barang konsumsi, untuk memenuhi permintaan domestik selama bulan puasa dan lebaran.

Sementara itu, meningkatnya defisit neraca jasa bersumber dari turunnya surplus jasa travel dan naiknya defisit neraca pendapatan primer karena meningkatnya pembayaran dividen sesuai dengan pola musimannya.

“Peningkatan defisit transaksi berjalan lebih lanjut tertahan oleh menurunnya defisit neraca perdagangan barang migas sejalan dengan turunnya harga dan volume impor minyak,” imbuhnya.

Perkembangan NPI pada triwulan II 2017 secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait kebijakan bank sentral AS dan faktor geopolitik, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.

“BI meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural,” pungkasnya.

 

 

 

Komentar