Menteri Jonan: Saya 100% Katolik, Ya 100% Indonesia

75
Penulis: Eko Cahyo
Editor: Alex M
Menteri ESDM, Ignasius Jonan saat berbicara dalam acara Konfernas Umat Katolik se Indonesia di Jakarta, Sabtu (12/8)
Share :

JAKARTA-Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan memaknai Pancasila itu sebagai “way of life”. Pancasila itu merupakan prinsip ideologi bangsa Indonesia, sebagai landasan hidup dalam berbangsa dan bernegara dari suku, golongan dan agama apapun.

Karena itu, perbedaan-perbedaan kultur, budaya, suku ataupun agama sebaiknya tidak dipertentangkan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Boleh saja orang itu punya perbedaan mengikut keyakinan tertentu dan kepercayaan tertentu, dan sebagainya dan itu tidak masalah, tetapi dalam berbangsa dan bernegara itu satu ideologi atau way of life adalah Pancasila,” ujar Jonan usai memberikan keynote speaker di acara Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia yang mengusung tema ” Revitalisasi Pancasila” di Universitas Atmajaya Jakarta. Sabtu (12/8).

“Saya Beragama Katolik, tidak pernah merasa sebagai anak bangsa yang minoritas, ya biasa aja, ya saya 100% Indonesia, ya 100% juga Katolik,”lanjut Jonan.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara menyatakan, penyebaran ideologi yang bertentangan dengan Pancasila jelas sudah dilarang.

Menurut Rudiantara,  bangsa Indonesia itu besar karena perbedaan. Bahkan bangsa ini akan lebih besar lagi dari sekarang kalau yang dicari bukan perbedaan, tapi persamaan diantara perbedaan.

“Saya dengan Pak Jonan, saya kenal lama, Agama saya dengan Pak Jonan berbeda, tapi kita tidak pernah mempertentangkan agama. Dalam konteks Indonesia, dalam kontek Pancasila, justru saya dengan Pak Jonan apa yang bisa kita kerjakan bersama, bidang dan sektornya berbeda namun kita bisa bekerjasama. Kesamaannya membuat Indonesia besar, membuat masyarakat adil dan makmur,” ujar Rudiantara.

Sementara itu, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu mengatakan, untuk menjaga Pancasila perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang sistematis seperti program bela negara dan kedepan, perang yang akan terjadi adalah perang cuci otak dan diadu-adu.

“Program Bela Negara akan dilakukan menyeluruh termasuk kepada mahasiswa dan kita sudah bekerjasama dengan Mendikbud, mendikti agar di masukkan dalam kurikulum dan kalau dia ga bisa, ga lulus,” ujar Ryamizard.

Dengan dimasukkannya Program Bela Negara dalam kurikulum mahasiswa maka menurut Ryamizard paserta Program Bela Negara akan serius mengikuti programnya.

“Inikan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, bagaimana kalau masalah bangsa tidak serius, untuk itu maka harus ada penekanannya yakni tidak lulus bagi yang tidak bisa,”pungkas Ryamizard.

Komentar