Congko Lokap: Momentum Kebangkitan Adat Manggarai

587
Penulis: Frans Gulat
Editor: Alex M
Prosesi acara adat Congko Lokap di Kampung Cumbi, Manggarai/photo dok Yus Mahu
Share :

CUMBI-Masyarakat adat di Cumbi, Kecamatan Ruteng,Kabupaten Manggarai, NTT menggelar acara adat Congko Lokap Gendang Gelarang Cumbi Niang Mese Senin (14/8).

Acara adat ini dibuat sebagai syukuran atas selesainya dibangun (direnovasi) rumah adat yang menjadi pusat kehidupan adat masyarakat Gelarang Cumbi Niang Mese.

Puncak acara hari ini ditandai dengan acara Paki Kaba (Potong Kerbau) yang dilakukan ritual prosesi adat Manggarai.

“Saya menyesal sekali tidak bisa mengikuti acara adat besar di kampung asal ayah saya ini,” ungkap Gabriel Mahal, keturunan dari Ema Ca, salah satu dari Ema Cempulu Ca (sebelas keturunan) yang menempati rumah adat Niang Mese Cumbi.

Sekalipun tidak mengikuti acara tersebut, Gabriel mengakui ikut merasa bahagia dan bangga karena acara adat seperti ini masih hidup dan dirayakan di Kampung Cumbi.

“Ini suatu fenomena yang menarik di tengah deras arus modernisasi dan globalisasi, ritual adat seperti ini masih hidup di Manggarai. Ini sekaligus membuktikan bahwa masyarakat adat Manggarai dengan segala acara dan ritual adatnya yang unik dan kaya makna itu masih hidup. Warisan leluhur itu masih terjaga. Ini sekaligus membantah anggapan bahwa masyarakat adat Manggarai telah kehilangan jati dirinya sebagai suatu masyarakat adat,” kata Gabriel.

Proses Congko Lokap/photo dok Kanis Mandur

Diungkapkanya, bahwa acara adat serupa ini sudah dibuat di kampung-kampung lainnya yang mendirikan atau merenovasi rumah adatnya.

Karenanya, dia berharap acara seperti menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi adat Manggarai lainnya yang tidak hanya unik, tetapi mengandung ajaran-ajaran dan nilai-nilai kebajikan yang tinggi (local wisdom) bagi kehidupan dan kemajuan bersama.

“Acara Penti, contohnya, mesti kembali diselenggarakan setiap tahun. Tradisi “do do” atau “kokor tago” yang tidak lain merupakan gotong royong dalam mengerjakan kebun, perlu dihidupkan kembali,” terangnya.

Dengan tradisi ini lanjutnya suatu masyarakat kampung bisa bersama-sama secara gotong royong membangun jalan, membangun rumah, membangun sumber air untuk kebutuhan kampung, dstnya.

“Jika rumah adat itu bisa dibangun secara gotong royong, maka mestinya juga hal-hal lain bisa dilakukan secara bersama-sama, secara gotong royong. Dan pasti berhasil. Jadi acara Congko Lokap itu harus menjadi momentum untuk membangkit semangat gotong royong untuk membangun kehidupan kampung,” kata Gabriel.

Acara Congko Lokap di Cumbi/photo dok Adrianus J

Di samping itu, Gabriel juga berharap elemen struktur dari sistem masyarakat adat itu juga mulai dihidup dan diberdayakan kembali. “Ya, jika kita lihat dari perspektif teorinya Friedman, maka dalam masyarakat adat Manggarai di setiap kampung itu, ada tiga elemen,” tuturnya.

Elemen pertama urainya, elemen struktur yakni kelembagaan adat seperti tua golo, tua teno dengan segala perangkatnya.

Elemen Kedua terangnya, elemen substansi, yakni berupa segala aturan adat, ritual adat, upacara adat.

“Dan elemen Ketiga, elemen kultur/budaya, yang menyangkut penerimaan, pengakuan, ketataan warga masyarakat adat terhadap kedua elemen tersebut dan kesadaran akan pentingnya untuk menjaga dan melestarikan keutuhan masyakarat adat tersebut. Ketiga elemen tersebut harus dibangun kembali dan didorong pertumbuhannya oleh masyarakat itu sendiri, dan tentu saja penting untuk didukung oleh Pemerintah Daerah,” tutur Gabriel.

 

Komentar