Ormas Katolik Indonesia Bunyikan Spirit Kebangsaan

25
Penulis: Eko Cahyo
Editor: Alex M
Share :

JAKARTA-Ormas Katolik se Indonesia bersikap tegas akan merawat komitmen dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, menyikapi kondisi bangsa Indonesia saat ini, Spirit Pancasila tak akan berbunyi bila hanya menjadi mantra tanpa diaplikasikan dalam kehidupan konkrit sehari-hari dalam spirit berkebangsaan.

“Akhir-akhir ini, Indonesia mengalami kepincangan. Di satu sisi ia ingin berlari kencang untuk mengimbangi perkembangan global, namun lain sisi yang seharusnya menopangnya untuk berlari justru balik menyerang,” ujar Pimpinan Ormas Katolik saat menyampaikan sikap bersama di Jakarta, Rabu (16/8).

Adapun Ormas Katolik di Jakarta antara lain Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik Republik Indonesia (PWKRI), Pengurus Pusat Pemuda Katolik (PK), Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) dan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI).

Acara ini dihadiri oleh Hargo Mandiraharjo (Ketua Presidium ISKA) dan Benny Sabdo (Sekjen ISKA), Justina Rostiawati (Ketua Presidium Dewan Pengurus Pusat PWKRI) dan E Sri Hari Lestari (Sekjen PWKRI),

Karolin Margret Natasa (Ketua Pengurus Pusat PK) dan Christopher Nugroho (Sekjen PK), Angelo Waka Keko (Ketua Presidium PMKRI) dan Bernadus Tri Utomo (Sekjen PMKRI), serta Veronica Wiwiek Sulistyo (Seknas FMKI).

Dijelaskan, serangan itu datang dari masyarakatnya sendiri yang membentuk organisasi untuk melumpuhkan Pancasila yang sudah 72 tahun digenggam sebagai filsafat hidup bersama.

Bahkan, ideologi yang melawan Pancasila yang dibawa oleh organisasi tertentu makin hari makin dipaksakan untuk menggeser dasar negara Pancasila. Selain itu, pelbagai masalah kian berkelindan seperti korupsi, penyalahgunaan narkoba, terorisme, intoleransi, konflik horisontal dan kemiskinan yang sampai kini belum juga teratasi.

Pemerintah terangnya seakan juga mengalami kegalauan untuk mengurai keluar dari benang kusut aneka permasalahan tersebut.  “Dalam kondisi pincang seperti ini kita merayakan ulang tahun ke-72 NKRI. Pertanyaannya, apa yang dapat kita genggam sebagai spirit bersama menyongsong usia 72 tahun ini,” imbuhnya.

Untuk itu, Ormas Katolik bersikap tegas akan merawat komitmen dalam kehidupan berbangsa. Sebab Spirit Pancasila tak akan berbunyi bila hanya menjadi mantra tanpa diaplikasikan dalam kehidupan konkrit sehari-hari dalam spirit berkebangsaan.

Pekan lalu Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama seluruh Ormas Katolik menggelar Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia bertajuk Revitalisasi Pancasila. Konferensi itu bertujuan menginisiasi kesadaran kolektif bangsa Indonesia bahwa Pancasila dan keadilan sosial harus kembali menjadi acuan dalam pembangunan bangsa. “Ulang tahun ke-72 NKRI layak dimaknai sebagai momen reflektif dimana semua elemen masyarakat kembali merenungkan jejak sejarah yang telah mengikat kita untuk hidup bersama sebagai sebuah negara bangsa,” imbuhnya.

Pemerintah sebagai penentu kebijakan perlu sadar bahwa HUT Ke-72 NKRI adalah kesempatan untuk bersyukur sekaligus bertanya, kemana bangsa ini akan dibawa setelah merdeka.

“Maka dalam suasana kegembiran ulang tahun ini, kita sebagai bangsa patut melayangkan pandangan ke depan sambil memetakan kembali mimpi para pendiri bangsa ini. Sehingga kita tidak gagap dan salah arah dalam memaknai keindonesiaan,” tuturnya.

Disebutkan, Pancasila yang oleh Bung Karno digali dari nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia mesti kembali mendapat tempat utama dan prioritas kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Karena itu, untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan, mari kita amalkan Pancasila untuk Indonesia yang adil dan sejahtera,” pungkasnya.

 

 

Komentar