Indonesiawi

108
 
Praktisi Hukum yang juga Budayawan, Gabriel Mahal, SH
Share :

Oleh: Gabriel Mahal, SH

Perayaan peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17/8/2017, berlalu. Di sana sini masih terasa sisa-sisa suasana kemeriahannya. Ini memang pesta rakyat yang setiap TAHUN ramai dirayakan mulai dari tingkat RT sampai dengan istana Kepresidenan RI.

Di tingkat acara formal kenegaraan, perayaaan HUT RI ke-72 ini, ada yang beda sama sekali dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini suasana etnik Nusantara terasa kental dan kuat.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tampil dengan pakaian adat dalam acara resmi Sidang Tahunan MPR, momen Presiden menyampaikan Pidato Kenegaraan.

Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Bugis. Istri Presiden Iriana mengenakan pakaian adat Bali. Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Istri mengenakan pakaian adat Jawa. Inilah pertama kalinya dalam sejarah Presiden, Istri Presiden dan Wakil Presiden, Istri Presiden, tampil dalam Sidang Tahunan MPR dengan mengenakan pakaian adat Nusantara.

Disusul kemudian dengan pengenaan busana adat Nusantara oleh hampir sebagian besar yang hadir mengikuti peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara pada tanggal 17/8/2017.

Presiden Widodo di momen ini mengenakan pakaian adat daerah Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dengan kekayaan keanakaragaman pakaian adat daerah yang dikenakan oleh setiap hadirin, perayaan peringatan Detik-Detik Proklamasi ke-72 menghadirkan suasana kemeriahan yang sangat berbeda dengan acara yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Pakaian adat setiap daerah sontak mendadak menempati posisi terhormat dan dihargai.

Gerakan Kebudayaan Nusantara

Pengenaan busana adat oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK, baik saat menghadiri Sidang Tahunan MPR, maupun pada peringatan Detik-Detik Proklamasi, nampak sederhana saja. Tetapi sebenarnya, pengenaan busana adat daerah itu merupakan suatu gerakan kebudayaan nusantara.

Miuccia Prada, fashion designer Itali yang terkenal dengan produk fashion Prada dan Miu Miu, mengatakan, apa yang Anda pakai mempresentasikan diri Anda ke dunia, khususnya di masa kini yang hubungan antara manusia satu dengan lainnya berlangsung cepat.

Fashion Merupakan Bahasa Instan

Dari perspektif fashion, yang dilakukan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK beserta seluruh jajaran pemerintahan dalam acara HUT Proklamasi kemarin itu, mempresentasikan kesejatian kepribadian Indonesia di mata dunia, yakni negeri yang kaya dengan keanekaragaman adat budayanya, dan karena ini merupakan bahasa yang instan yang disampaikan dalam momen penting bersejarah, maka pesan itu disampaikan secara cepat baik kepada seluruh rakyat Indonesia, maupun kepada dunia.

Saya tidak mengatakan bahwa pakaian adat setiap daerah itu adalah fashion. Karena tidak pas. Fashion itu gampang hilangnya, bersifat sesaat saja, seperti kata Coco Chanel, designer Perancis yang terkenal itu, fashion itu memudar, menghilang, tapi style itu tetap. Atau seperti dikatakan fashion designer Oscar de la Renta, fashion adalah tentang berpakaian menurut apa yang fashionable, yang lagi tren. Sementara style lebih mengenai diri Anda.

Jadi, pakaian adat setiap daerah itu merupakan kekayaan style setiap daerah di Indonesia yang merupakan kebudayaan dan peradaban masyarakat adat setiap daerah, dan semuanya terangkum dalam style Indonesiawi.

Cerminkan Kepribadian Bangsa Indonesia

Pengenaan busana adat daerah di momen HUT RI 72 itu merupakan suatu gerakan kebudayaan yang mengajak seluruh rakyat dan bangsa Indonesia kembali kepada akar budaya Nusantara yang merupakan originalitas kepribadian kita sebagai bangsa.

Suatu masyarakat tanpa pengetahuan sejarah, keasliannya dan kebudayaannya ibarat pohon tanpa akar. Begitu kata Marcus Garvey, pemimpin politik Jamaica.

Di samping itu, ini merupakan gerakan kebudayaan yang mengajak seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk menghormati, menghargai keberagaman adat, budaya, suku, agama, keyakinan setiap individu, setiap kelompok masyarakat, yang kesemuanya itu merupakan kekayaan Indonesia, kesejatian Indonesia, sekaligus merupakan kekuatan Indonesia.  Suatu gerakan kebudayaan yang Indonesiawi.

Geliat Adat Budaya Manggarai

Pengenaan busana adat daerah di HUT RI-72 sebagai suatu gerakan kebudayaan yang Indonesiawi itu pas momennya dengan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat Manggarai di Manggarai, dan di kalangan masyarakat diaspora Manggarai, belakang ini.

Di Manggarai kita saksikan mulai hidup kembali acara-acara adat di kampung-kampung dengan segala ritual adatnya. Kita bisa cek di Youtube sudah cukup banyak postingan acara-acara adat dengan segala ritualnya.

Di kalangan masyarakat diaspora Manggarai, acara pentas caci bermunculan di setiap daerah. Dan yang menarik adalah keterlibatan generasi muda dalam acara pentas caci tersebut. Ini suatu perkembangan yang menarik.

Memang sudah seharusnya kita menjaga, merawat, dan melestarikan adat budaya Manggarai dengan segala unsur-unsur di dalamnya, termasuk bahasa Manggarai (curup Manggarai).

Derasnya arus modernisasi dan globalisasi tidak bikin kita tergerus dan kehilangan kesejatian diri sebagai masyarakat yang memiliki adat budaya tersendiri yang khas unik dengan nilai-nilainya (local wisdom) yang tinggi, tetapi sebaliknya kita justru harus memperkuat adat budaya daerah warisan leluhur kita. Hanya dengan itu kita masih pantas disebut sebagai orang Manggarai yang seperti pohon memiliki akar kuat adat budaya Manggarai. Bukan seperti pohon tanpa akar.*

Penulis adalah Praktisi Hukum yang juga Budayawan di Jakarta.

 

Komentar