Fery Adu: Pencuri Pasir ‘Pink Beach’ Adalah Kejahatan Luar Biasa

217
Penulis: Frans Gulat
Editor: Lita Rafael
Mantan Ketua Kader Konservasi BTNK, Surion Adu Florianus
Share :

LABUAN BAJO-Mantan Ketua Kader Konservasi Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Surion Adu Florianus menegaskan aksi pencurian pasir merah dari Pink Beach di kawasan laut Komodo, Labuan Bajo merupakan kejahatan yang luar biasa.

Sebab, jangankan mengambil atau mencuri pasir termasuk karang di kawasan itu, memindahkan atau sengaja merubah bentuk bentangan alam serta ekosistem dalam kawasan konservasi TNK saja tidak boleh karena akan merusak nilai kawasan TNK sebagai kawasan konservasi.

“Saya kira, pelaku pencurian pasir merah ini harus ditangkap segera. Ini kejahatan luar biasa yang tidak dapat ditolerir,” tegas Florianus yang juga dipanggil Fery Adu ini di Labuan Bajo, Rabu (23/8).

Pernyataan keras ini disampaikan Fery Adu menyusul sinyalemen pencurian pasir dari Pink Beach seperti diungkap Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kabupaten Mabar Frans Subur saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak Balai TNK di Labuan Bajo, Senin (21/8).

“Saya menduga ada pencurian Pasir merah yang diangkut dalam jumlah banyak. Kini pasir itu berhasil diamankan pihak Bandara Udara Komodo Labuan Bajo,” ujar Frans.

Menurut Fery, Pink Beach itu merupakan salah satu aset wisata yang memiliki kekhasan, baik warna pasirnya maupun karangnya yang berada dalam zona kawasan konservasi TNK. Karena itu, wajib hukumnya dijaga kelestariannya.

Apalagi, dalam UU Konservasi secara tegas mengatakan jangankan mencuri pasir memindahkan atau sengaja merubah bentuk bentangan alam serta ekosistem dalam kawasan konservasi TNK saja dilarang. Sebab, akan merusak nilai kawasan TNK sebagai kawasan konservasi.

“Sehingga pencurian pasir yang diduga berasal dri Pink Beach TNK oleh oknum yang tertangkap di Bandara Komodo ini adalah kejahatan luar biasa,” tegasnya.

Baca: http://www.padarnews.com/2017/08/22/dprd-mabar-ungkap-dugaan-pencurian-pasir-merah-dari-pink-beach/

Untuk itu, Fery mendesak agar pelaku pencurian ini harus dihukum berat agar menimbulkan efek jera.

Selain dituntut dengan UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, pelaku pencurian harus diproses  sesuai dengan ketentuan hukum pidana.

Didalam pasal 19 ayat (1) UU No 50 tahun 1990 menyebutkan melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam dikenakan Pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Sedangkan di pasal 21 ayat (1) dijelaskan, Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia dihukum dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

“Jadi, jangan main-main. Aturan hukumnya sudah jelas. Dan harus ditegakan,” ucapnya.

Menurutnya, tuntutan pidana juga harus diberikan kepada pelaku pencurian ini.  Hal ini penting agar menjadi shock therapy bagi pelakunya. “Jadi, perlu ada sikap tegas. Siapapun pelakunya, harus dihukum,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fery mengatakan Kepala BTNK juga bisa diberikan sanksi berupa turun pangkat karena gagal menjaga kawasan TNK. “Saya kira, dia harus segera di copot dari jabatanya karena kelalaian dalam pengawasan,” ujarnya.

“Saya pikir Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  segera ambil tindakan tegas terhadap kepala Balai TNK. Selain itu kami terus mendesak kepada Kepala BTNK untuk menuntaskan kasus dugaan pembantaian menjagan yang terjadi dalam TNK beberapa waktu lalu,” pungkasnya.

Komentar