Perebutan Air Irigasi Picu Konflik Antar Petani

245
Penulis: Frans Gulat
Editor: Lita Rafael
Juru Pengairan DI Lembor (Ki-Ka) : Kanisius Bambur, Lukas Piur dan Donatus Jon
Share :

LEMBOR-Kebutuhan akan air irigasi yang semakin meningkat sementara ketersediaan air semakin menurun memunculkan persaingan penggunaan air antara petani di areal persawahan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Jika tidak diatur dengan baik, rebutan air irigasi ini memicu konflik antar petani.

Juru Pengairan Wae Sesap dan Wae Sele, Kanisius Bambur mengaku mendistribusikan air secara merata di areal Persawahan Daerah Irigasi (DI) Lembor dengan luas total lahan fungsional 6.121,012 Ha tentu bukan perkara gampang.

Masalahnya, debet air semakin berkurang, sementara tingkat kebutuhan petani akan air irigasi sangat tinggi.

Akibatnya, kerap kali terjadi perebutan air terutama ketika malam hari. “Banyak petani yang entah terpaksa atau karena nakal mengambil air yang bukan diperuntukan baginya,” ujar Kanisius.

Diduga, aksi pencurian air irigasi ini dilakukan para petani dari areal persawahan Poco Koe.

Adapun lokasi pencurian air ini, sering dilakukan oleh petani Poco Koe di Pintu Air BWS I atau di Daleng, tepatnya di Jembatan Wae Sele.

Hal ini merupakan dampak dari sikap petani yang tidak patuh terhadap arahan petugas pertanian terkait ketentuan tanam serempak.

Kondisinya diperparah dengan tidak aktifnya lagi pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Apalagi, jumlah petugas pengairan yang ada sangat tidak memadai untuk melakukan pemantauan di areal sawah sebanyak 750 Ha ini.

“Kami tanya mereka berapa jumlah areal yang benar- benar tanam di Poco Koe, tapi mereka tidak pernah beritahu ke kami. Apalagi P3A sudah banyak mati sehingga petani sesuka hatinya saja. Dan inilah pula alasan kenapa hampir tiap tengah malam air meluap ke badan jalan Labuan-Ruteng di Lus, Desa Daleng. Air penuh di jalan sampai di depan rumah Baba Barut,” terangnya.

Areal Persawahan Lembor

Kanisius mengaku, sudah mengatur pembagian air irigasi ini kepada petani. Namun aturan ini tidak dipatuhi bahkan ada petani berbuat sesuka hati.

Menurut Kanisius, petugas pengairan sulit mengatasi aksi sepihak pencurian air ini lantaran mereka membobol paksa pintu air pada tengah malam. “Mereka biasanya curi air jam 10 malam ke atas dan suka kucing-kucingan dengan petugas,” ujarnya.

Kanis menegaskan, aksi sepihak masyarakat petani ini berpotensi menimbulkan persoalan. Jika situasi ini tidak diantisipasi dengan cepat oleh semua pihak terkait akan menimbulkan konflik horisontal di tengah masyarakat petani Lembor.

Upaya membangun kesepahaman pernah dilakukan di tingkat Kecamatan dengan melibatkan KTN dan para pengurus air serta diikuti pula oleh Babinsa Poco Koe. Sayangnya, implementasi dari kesepahaman ini belum terlihat jelas di lapangan.

“Beberapa petani dari arah Wae Sesap I dan II atau areal sawah di Wae Nakeng, Malawatar, Sambir Bendera dan Karot pernah minta ke kami untuk ikut pantau para pencuri air itu. Kalau hal ini tidak segera dipikirkan secara bersama-sama, mereka bisa saja baku lipat di pintu air nanti,” ujarnya.

Senada dengan Kanisus, Juru Pengairan Wae Kanta Raho, Lukas Piur mengaku mengalami tantangan yang sama. Bahkan, keributan antara petani terjadi setiap saat di lokasi pintu air di Malok Betong.

“Apalagi pintu air tidak ada atau rusak, kami semakin sulit memberi pengertian ke para petani untuk ikut jadual giliran air. Mereka buat suka-sukanya mereka,” jelas Pius yang bertugas mengatur air bagi total areal sawah seluas 1.856 Ha ini.

Dampak Kurangnya Debit Air : Sawah Yang Tidak Digarap di Lokasi Persawahan Siru, Watu Lendo, Desa Siru

Tantangan serupa juga dialami Juru Pengairan Wae Lombur Lembor dan Wae Cewo-Lembor Selatan, Donatus Jon.

Beratnya tantangan yang dihadapi membuat mereka terpaksa bekerja siang dan malam meskipun tanpa ditunjangi dengan fasilitas kerja yang memadai.

” Selain meminta motor dinas, kami pun berharap disediakan alat ukur debit air. Selama ini kami sangat kesulitan bertugas apalagi untuk ukur debit air, pake cara manual atau pakai potongan kayu saja. Hal ini sangat penting supaya kami lebih maksimal mengatur pembagian air di wilayah tugas kami masing-masing,” imbuhnya.

Komentar