Presiden: Butuh 128 Tahun Pendidikan Indonesia Menyamai Negara Maju

837
Penulis: Eko Cahyo
Editor: Alex M
Presiden Jokowi saat menjawab pertanyaan peserta dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10)
Share :

BOGOR-Presiden Joko Widodo mengatakan pendidikan Indonesia saat ini tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Hal ini disebabkan metode pendidikan yang diterapkan selama ini terlalu monoton dan terjebak pada rutinitas. Akibatnya, siswa kehilangan kreatifitas.

“Kalau tidak kita rombak, tidak diubah secara total, maka dibutuhkan 128 tahun untuk bisa menyamai negara-negara maju saat ini sebagaimana ditulis oleh seorang profesor dari Harvard. Itu pun di Jakarta,” kata Presiden Jokowi menanggapi ungkapan dari seorang peserta dari Ruang Guru, yang hadir dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10).

Menurut Presiden, problem besar Indonesia adalah letak geografi yang berpulau-pulau dengan jumlahnya mencapai 17.000 Pulau. “Tidak mudah menjangkau dari pusat ke daerah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan,” akunya.

Untui itu, Presiden berpendapat perbaikan metode pendidikan di Indonesia bisa dilakukan dengan menggunakan aplikasi sistem.

“Saya kira perubahan akan nampak kalau kita berani menggunakan aplikasi-aplikasi sistem yang memang memudahkan anak-anak untuk belajar, dan saya paling senang kalau anak-anak kita ini tidak belajar di ruangan saja,” tutur Presiden Jokowi.

“Misalkan anak-anak Sekolah Dasar (SD) kenapa tidak dibawa ke kantor bank biar mengerti mengenai sistem keuangan, kenapa tidak diajak ke misalnya pabrik garmen untuk melihat sebetulnya yang namanya pabrik itu apa. Bisa saja diajak ke museum untuk mengenalkan sejarah secara riil, mengenalkan artefak-artefak lama yang konkret,” tegasnya.

Kepala Negara mengatakan anak didik di Indonesia sudah terlalu lama selalu belajar di ruangan.  “Kalau saya senangnya ya 60:40, 40 di ruangan, 60 nya di luar ruangan,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden menambahkan, anak-anak harus dihadapkan pada problem atau tantangan agar mereka mampu berimajinasi mengatasai masalah yang dihadapi.

“Jangan hanya rutinitas seperti yang telah kita kerjakan bertahun-tahun. Kalau kita berani berubah seperti itu, tantangan-tantangan ini akan secara cepat bisa kita hadapi,” ucap Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, anak harus langsung dihadapkan pada  problem-problem yang riil, yang ada sesuai dengan level masing-masing. “SD dengan SMP yang berbeda dong, SMP dengan SMA yang berbeda, SMA dengan Universitas juga berbeda-beda. Saya kira kalau ini bisa kita kerjakan, apalagi dengan aplikasi sistem yang bisa menjangkau sampai daerah-daerah terpencil, sampai pulau-pulau terluar kita, itu akan lebih cepat perubahan itu,” pungkasnya.

Komentar