Judi Online Makan Korban Kontraktor di Labuan Bajo

1307
Penulis: Eko C
Editor: Lita Rafael
Ilustrasi
Share :

LABUAN BAJO-Judi online ternyata tidak hanya terjadi di kota-kota besar di Indonesia, tetapi di kota kecil Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berjudi didunia maya ini sangat digandrungi. Bahkan tragis, seorang kontraktor di Labuan Bajo ini harus kehilangan miliran rupiah lantaran kalah judi online ini.

“Tetapi dia tidak pernah kapok. Justru dia berkhayal akan menang dan bermimpi menjadi kaya raya,” ujar sumber padarnews di Labuan Bajo, Senin (6/11).

Namun sumber padarnews.com yang tidak mau disebutkan namanya ini enggan mengungkap identitas kontraktor yang kalah judi online ini.

Yang pasti terangnya, aktifitas judi online di Labuan Bajo sangat marak dan kecendrungan meningkat belakangan ini.

Pelakunya perjudian ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa, oknum PNS hingga pengusaha (kontraktor).

Belakangan, aktifitas judi online tidak terhentikan setelah Polres Mabar menggelar operasi terhadap judi konvensional (judi tiga dun, main yoker dll). “Pelaku judi online ini main kucing-kucingan dengan aparat,” urainya.

Judi online semakin diminati lantaran sulit diendus oleh aparat penegak hukum. Apalagi di Mapolres Mabar, belum ada unit cyber crime yang mamantau aktifitas penjudi online ini.

“Banyak penjudi konvensional yang beralih ke judi online sekarang. Relatif lebih aman dari pantauan polisi,” terang sumber padarnews.com ini.

Sumber ini mengaku miris dengan kondisi teman kontraktornya itu yang sudah terhipnotis dengan judi online. Meski sering kalah, kontraktor ini tidak pernah kapok berjudi online.

Dampak dari kegilaannya berjudi online, dia tidak pernah fokus bekerja. “Dia kehilangan semangat bekerja. Setiap malam waktunya dipakai untuk judi online. Betul-betul judi online ini meracuni kehidupannya,” terangnya.

Sebenarnya, hukuman bagi pelaku perjudian online sangat berat.

Selain dihukum berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pelaku judi online juga dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pasal 27 UU ITE menyebutkan  ‘Setiap orang sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Sebelumnya, Bareskrim Mabes Polri berhasil mengungkap kasus perjudian online yang saat ini marak di Internet. Dari hasil investigasi, polisi akhirnya menemukan sekitar 400 situs judi online yang aktif digunakan masyarakat dengan omset ratusan juta rupiah.
Dari 400 situs tersebut, polisi juga berhasil menyita 460 rekening milik sang bandar yang saat ini masih dalam pencarian polisi.

Sementara itu, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Andi Z.A Dulung menyatakan, maraknya judi karena pemikiran instan masyarakat dalam hal materi.

“Salah satu penyebab maraknya judi online karena sikap masyarakat yang ingin cepat kaya, ingin instan dalam meraih kekayaan. Ini persepsi yang salah,” kata Andi.

Kementerian Sosial pun meminta partisipasi masyarakat dalam memberantas maraknya judi di dunia maya tersebut.

“Jika ada situs berisi aktivitas perjudian laporkan ke kita (Kementerian Sosial-red.), biar kita cek dulu apakah itu kategori judi, ketangkasan atau undian berhadiah. Baru blokirnya kita serahkan ke Kominfo,” tandasnya.

 

 

Komentar