Gabriel Mahal: Robert Marut, Arsitek Perubahan NTT

447
Penulis: Frans Gulat
Editor: Alex M
Ilustrasi
Share :

JAKARTA-Praktisi Hukum yang juga putra Nusa Tenggara Timur (NTT), Gabriel Mahal menilai Marsekal Muda TNI (Purn) Robert Soter Marut merupakan figure yang tepat memimpin Provinsi NTT.

Menurutnya, masyarakat NTT membutuhkan ‘arsitek perubahan’ yang dekat dengan rakyat.  “Pemimpin yang diharapkan itu tidak berada di atas menari gading kekuasaan. Tapi menyatu dengan rakyat, petani-petani dan nelayan-nelayan kecil. Yang mengerti betul amanat penderitaan rakyat. Dan itu ada dalam diri Robert Marut,” ujar Gabriel di Jakarta, Rabu (6/12).

Seperti diketahui, sejumlah partai di NTT belum menentukan pilihan untuk diusung dalam pilgub NTT 2018. Hanya pasangan Esthon Foenay dan Christian Rotok yang sudah mendeklarasikan secara resmi.

Informasi yang berkembang menyebutkan, PDI Perjuangan bakal memberikan tiket cagub NTT kepada Robert Soter Marut.

“Saya masih sangat mengharapkan agar Kae (kakak_red), Robert Marut mendapat dukungan dari partai-partai yang masih belum menentukan pilihan calon Gubernur NTT. Ini adalah pilihan yang tepat,” tuturnya.

Gabriel mengatakan, pemimpin yang dibutuhkan NTT saat ini adalah pemimpin yang menggerakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Selain itu, NTT juga membutuhkan pemimpin yang memberikan harapan dan bersama-sama dengan rakyat menggapai harapan itu. “NTT tak butuh pemimpin yang tidak gila hormat. Tapi gila melayani rakyat. Memimpin kami untuk maju bersama. Artinya, NTT butuh Arsitek Perubahan dan semua itu ada Marsda Robert S. Marut, Msc,” imbuhnya.

Menurut Gabriel, figure Robert Marut  sangat tepat menjadi NTT 1. Apalagi, Robert Marut ini sudah selesai dengan urusan-urusan pribadi dan urusan keluarganya. “Kepentingan dan kebutuhannya sekarang hanya bikin rakyat NTT maju sejahtera,” jelasnya.

Gabriel melihat, NTT membutuhkan pemimpin yang menjadi inspirasi bagi rakyatnya.

NTT saat ini tuturnya membutuhkan pemimpin “man of integrity”, “man of values”, “man of strategy”, “man of actions” yang “actions”-nya “talk louder than words”. “Itu semua ada di dalam diri Robert Marut ini,” ulasnya.

Disamping itu lanjut Gabriel, NTT juga membutuhkan pemimpin yang “humble”, rendah hati dan memiliki semangat melayani. “Dan itu bisa dapatkan semua dalam diri Kae Robert ini,” terangnya.

Tak hanya itu, jika berbicara soal keluarga merupakan pilar masyarakat maka keluarga Robert Marut ini bias menjadi teladan bagi banyak orang. “Keluarga yang rukun dan akan menciptakan masyarakat yang rukun dan harmonis. Keluarga seperti itu dalam keluarga Robert ini,” imbuhnya.

Gabriel juga mengatakan dalam bidang budaya, Robert Marut juga mempunyai perhatian yang sangat besar.

RSM terangnya betul-betul peduli dan concern dengan adat budaya.

Hal ini terlihat dari dukungan Robert Marut dalam setiap kegiatan budaya NTT di Jakarta. “Pengalaman saya dalam mencari dukungan kegiatan adat budaya yang digelar ase kae di Jakarta selama ini, Kae Robert ini selalu ada dalam daftar saya untuk minta dukungannya. Kae ini tidak beri dukung sebatas doa, tapi dukungan nyata (finansial), tanpa banyak omong. Kenapa? Karena Kae ini cinta adat kebudayaan yang jadi kekayaan kita semua,” kisahnya.

Namun kelemahannya urai  Gabriel, Robert Marut ini lurus dan lempeng serta tidak neko-neko.

Apalagi, tidak jarang panggung politik tidak memberi tangga untuk putra-putri bangsa yang lurus. “Tapi semoga, ini sudah berubah. Partai-Partai Politik mengusungnya. Dan rakyat NTT memilih dia sebagai pilihan yang pas dan tepat untuk NTT,”pungkasnya.

Robert Soter Marut adalah putra kelahiran Cibal, Manggarai, NTT, 22 April 1959 lalu.

Tokoh yang disapa RSM ini juga seorang purnawirawan Perwira Tinggi TNI AU dengan jabatan terahkirnya sebagai Staf Khusus KSAU.

Sebelumnya, dia menjabat sebagai Komandan  Pemeliharaan Materil Angkatan Udara  (Dankoharmatau) sejak 30 Maret 2015 sampai 10 Oktober 2016.

Robert, merupakan alumnus  Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1982 dan berasal dari kecabangan Korps Teknik  yang juga telah mengikuti pendidikan Sesko TNI pada tahun 2002.

 

Komentar