NTT, Bangkit!!!

75
 
Share :

Oleh: Gabriel Mahal

Secara umum, akar permasalahan ketidaksejahteraan kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan karena miskin sumber daya alam. Bukan karena tanahnya tidak bisa ditumbuhi tanaman pertanian/perkebunan. Bukan karena padang savanahnya tidak bisa untuk peternakan. Bukan karena lautnya tidak punya hasil laut. Bukan karena kita hanya punya satu dua pulau. Ada 566 pulau di NTT dan saya kira NTT adalah propinsi dengan pulau terbanyak di Indonesia. Dari perspektif pariwisata pulau-pulau itu merupakan daya tarik wisatawan yang luar biasa.

Belum sejahteranya masyarakat NTT bukan karena tidak memiliki modal sosial (social capital) dan modal kultural (cultural capital). Ada kurang lebih 23 suku di NTT.  Masing-masing memiliki adat budaya yang unik. Menarik. Beragam suku itu hidup rukun dan saling menghormati. Saling membantu. Memiliki semangat gotong royong sebagaimana terkandung dalam nila-nilai adat budaya di masing-masing suku bangsa itu. Semuanya itu merupakan modal sosial (social capital) yang penting dalam membangun kehidupan bersama.

Masih tertinggalnya kehidupan masyarakat NTT bukan karena tidak ada sumber daya manusia yang hebat-hebat. Kita kaya dengan manusia-manusia cerdas dan hebat. Sejak dulu institusi-institusi pendidikan di NTT banyak menghasilkan manusia-manusia cerdas.

Lalu apa akar persoalan kita di NTT?   Saya teringat apa yang pernah diungkapkan oleh penulis inspirasional OG Mandino (1997). Penulis yang pernah putus asa dan mau bunuh diri ini  mengungkapkan bahwa kebanyakan manusia dalam tingkat yang berbeda-beda sudah mati. Kematian itu diawali dengan membangun penjara bagi diri sendiri. Setelah mendiaminya beberapa jangka waktu tertentu, kita terbiasa dengan temboknya dan menerima anggapan palsu bahwa kita dipenjara seumur hidup. Dalam penjara itu, kita mati.

<!–nextpage–>

Kita termasuk kebanyakan manusia seperti diungkapkan Mandino itu. Para elit pemimpin mengalami kematian. Para birokrat di daerah-daerah mengalami kematian. Sebagaian besar rakyat ikutan mati. Karena itu, sebaik apapun program pembangunan yang ditawarkan kepada kita, tak akan memberikan dampak perubahan. Sebesar apapun perhatian Presiden Jokowi untuk NTT, misalnya, tidak akan memberikan efek pada sikap proaktif menyambut peluang-peluang yang tercipta untuk meningkatkan kesejahteraan itu.

Saatnya kita bangkit. Cara dan syarat utama untuk bangkit itu mudah. Tidak sulit. Semua orang bisa lakukan. Setiap kita bisa lakukan. Secara pribadi dan bersama-sama kita melakukan perubahan mindset dari sikap status quo (tidak menganggap penting perubahan) menuju perubahan (reform oriented), dan dari ketertutupan (closedness) ke keterbukaan (openness).

Perubahan mindset sebagai faktor krusial memiliki makna penting dan strategis untuk mencapai kesejahteraan. Suatu mindset, dalam teori keputusan (decision theory) dan teori sistem umumnya, mengacu kepada serangkaian asumsi, anggapan, persepsi, dan metode yang dipegang seseorang atau kelompok orang sebegitu kuatnya sehingga menciptakan dorongan sangat besar dalam diri seseorang atau sekelompok untuk meneruskan sikap, pola laku, pilihan-pilihan, atau sarana-sarana yang sudah dan biasa dijalankan. Fenomena bias kognitif ini digambarkan pula sebagai “mental inertia”, “groupthink”, atau suatu paradigma.

<!–nextpage–>

Perubahan mindset berarti mengadakan perubahan asumsi, anggapan, persepsi dan metode lama yang selama ini jadi pedoman sikap dan pola laku. Perubahan “mental inertia”, “groupthink”, atau paradigma. Bagaimana perubahan itu dapat dilakukan?

Banyak pakar di bidang mindset ini yang telah mengemukakan kiat-kiat mengubah mindset. Banyak literatur yang membahas soal ini karena dinilai sangat penting, di antaranya: Change Your Mindset, Change Your Life: The New Psychology of Success yang ditulis Carol S. Dweck; Lasting Purpose: A Mindset for Success karya Sid E. Williams; The Maverick Mindset: Finding the Courage to Journey from Fear to Freedom karya Doug Hall & David Wecker; Food for Thoughts: Eating for Clarity, Energy and a Positive Mindset  karya Sheryl Angella Stern; Attitude: Achieving the Right Mind-Set to be the Best You Can Be dari Barbara Kaufman,dan masih banyak lagi.

Dari begitu banyak pendapat, pandangan, kiat-kiat perubahan mindset  terdapat satu hal yang sangat penting dan merupakan kunci perubahan itu adalah kesadaran (awareness) bahwa kita selama ini mati.  Atau seperti dikatakan Anthony de Mello, kita selama ini “tidur”.

Pemimpin NTT haruslah orang yang pertama-tama memiliki kesadaran (awareness) dan mengakui bahwa kita selama ini “mati”, seperti kata Mandino, atau “tidur” seperti kata Anthony de Mello. Seorang pemimpin yang memiliki kesadaran (awareness) ini akan segera bangkit dan pertama-tama menyerukan agar kita bangkit.  Hanya ketika kita sudah bangkit, barulah kita bersama-sama bisa tegak berdiri, berjalan, berjuang bersama, meninggalkan NTT yang Inferno – neraka karena kemiskinan, melalui Purgatorio – api penyucian dari segala yang bikin kita “tidur”, “mati”, menuju NTT Paradiso – NTT yang adil makmur, sejahtera.

Penulis adalah putra NTT yang juga Praktisi Hukum di Jakarta

Komentar