Ubi Hutan Beracun Mabar Tembus Pasar China

1613
Penulis: frans gulat
Editor: lita rafael
Maria Selina asal Limbung berpose dengan Ndege (ubi hutan beracun).
Share :

SANO NGGOANG-Ubi hutan beracun atau (Ndege bahasa lokalnya-red) ternyata memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Terbukti, ubi hutan beracun asal Manggarai Barat menembus pasar China oleh pengepulnya.

“Diekspor ke China untuk bahan dasar lem, obat-obatan dan mie,” ujar salah seorang pengepul Ndege di Limbung, Dahot bernama Berta Jumat (20/4).

Berta asal Pulau Papagarang, Komodo ini mengaku usaha pengumpulan Ndege sangat bagus. Per dua hari saja, dia bisa mengumpulkan sekitar 15 – 20 ton Ndege mentah.

“Itu pun baru dari seputaran Kempo,” katanya.

Bisnis Ndege ini lanjut Berta sangat membantu warga lokal. Bahkan saat ini, dia sudah mempekerjakan 25 orang tenaga kerja untuk membantu kelancaran usahanya ini.

“Pekerja masih kurang, idealnya 30 orang untuk pengeringan. Dan bahwa para petani di Daerah ini merasa sangat senang karena tanaman liar beracun ini ternyata punya harganya. Mereka sangat senang,” terang Berta berapi – api.

Melihat besarnya potensi pasar ekspor ke China, Berta berencana membudidayakan Ndege dengan pola kerja sama bersama warga.

“Budi daya di lahan petani sendiri agar pasokan Ndege terjaga terus dan tentunya ada pemasukan tambahan untuk mereka. Apalagi Ndege ini sangat cocok di daerah berhawa dingin,” tuturnya.

Ubi hutan beracun ini sebelum dikepak ke Surabaya dan selanjutnya diekspor ke China, Ndege mentah dari petani diiris lalu dikeringkan. Pengeringan sekitar 3-4 hari tergantung cuaca.

Komentar