Panwaslu Harus Antisipasi Serangan Fajar di Pilgub NTT

152
Penulis: frans gulat/ant
Editor: lita rafael
Ilustrasi
Share :

KUPANG-Antropolog budaya dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang Pater Gregorius Neonbasu SVD mengimbau Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat mengantisipasi terjadinya serangan fajar menjelang hari pencoblosan pada 27 Juni 2018.

“Saya khawatir, aksi serangan fajar bisa dilakukan para tim sukses saat-saat menjelang hari H pelaksanaan Pilkada 2018. Kondisi ini yang perlu diantisipasi oleh Panwaslu di NTT,” katanya dalam percakapan dengan Antara di Kupang, Selasa (5/6).

Hal ini disampaikannya menanggapi pertanyaan soal peluang empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di NTT yang maju dalam pemilihan gubernur pada 27 Juni mendatang.

Menurut rohaniwan Katolik itu, sejauh ini proses kampanye yang dilakukan oleh empat pasangan calon gubernur dan wakil berjalan biasa-biasa saja dan aman tanpa ditemui adanya permainan uang atau money politics.

Karena itu, menurut Pater yang juga dosen antropologi mengatakan jika ingin bersih dan jujur maka Pengawas Pemilu di NTT mulai memperhatikan hal ini dan membuat aturan yang keras bagi mereka yang akan melakukan serangan fajar.

“Bawaslu ataupun Panwas bisa segera mengeluarkan aturan bahwa bila kedapatan ada yang terlibat serangan fajar maka langsung didiskualifikasi seketika juga,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa walaupun terlihat “biasa-biasa saja” saat kampanye namun ada pula “diam-diam” dan bergerak di kehidupan masyarakat NTT, yakni ke desa-desa.

Komentar