BMKG Sesalkan Musibah di Selat Sape

66
Penulis: frans gulat/ant
Editor: lita rafael
Kapal Tenggelam di Selat Sape NTB
Share :

KUPANG-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang menyayangkan terjadinya musibah tenggelamnya kapal motor di perairan Selat Sape, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang merenggut korban jiwa.

“Sangat disayangkan kalau masih terjadi kecelakaan laut, padahal BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca di wilayah perairan laut,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo di Kupang, Selasa (31/7).

Kapal Berhat Illahi yang berlayar dari Pelabuhan Waikelo Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT) tenggelam di Perairan Sape, Kabupaten Bima, NTB. Kapal tenggelam karena dihantam gelombang tinggi.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (29/07/2018). Lima orang tewas akibat insiden ini, tiga orang belum ditemukan.

Kapal yang mengangkut 25 penumpang dan 6 orang ABK tersebut diketahui tenggelam di tengah laut tepatnya di perairan laut Torobabula Timur, Desa Nggelu Sape Bima, NTB selang tiga jam berlayar dari NTT sekitar pukul 08.00 Wita.

“Akibat kecelakaan tersebut 5 orang penumpang meninggal dunia dan 20 orang penumpang berhasil diselamatkan. Sementara 2 orang meninggal dunia sudah ditemukan, 3 orang lainnya masih dalam pencarian,” kata Kapolres Bima, AKBP Ida Bagus Winarta.

Ota Welly menjelaskan cuaca di wilayah perairan laut saat musibah laut terjadi pada 29 Juli 2018 pukul 08.00 WITA.

Menurut dia, musibah di perairan Selat Sape tidak perlu terjadi jika saja pemilik kapal maupun nahkoda mematuhi peringatan yang dikeluarkan BMKG.

Dia menjelaskan, berdasarkan analisis garis angin, pada Minggu, 29 Juli 2018 pukul 08.00 WITA hingga 29 Juli 2018 jam 17.00 WITA, kecepatan angin berkisar antara 12 – 40 km/jam.

Pada saat yang sama terjadi Swell, sehingga resultantenya menyebabkan tinggi gelombang setinggi 0,5 ? 3,5 meter dan angin dari arah Timur – Tenggara.

Swell artinya penjalaran gelombang dari tempat yang jauh atau dari tempat asalnya menuju wilayah perairan yang lain. Saat itu penjalaran gelombang tinggi terjadi di perairan laut Sumatera bagian barat dan perairan selatan Jawa (Samudera Hindia) bagian barat Sumatera dan Selatan Jawa.

Gelombang tinggi yang terjadi di wilayah perairan tersebut bergerak ke wilayah Timur (wilayah perairan NTT) dan berpotensi menimbulkan gelombang di perairan NTT.

Komentar