Moratorium Tambang, SK Pemberi Harapan Palsu

101
 
Mendagri Tjahjo Kumolo menjawab wartawan usai menghadiri Rakor Kadiv Propam, di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (25/2)
Share :

Oleh: Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi

Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yoseph Nae Soi (Victory-Joss), dalam masa-masa kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018 dengan garang bicara di depan publik untuk melakukan moratorium pertambangan mineral dan batubara di Provinsi bumi Nusa Cendana ini.

Tidak hanya berjanji melakukan Moratorium, pernyataan yang “lebih indah” ditegaskan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yoseph Nae Soi pada saat dua politisi ini dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terpilih untuk Periode 2018-2023.

Yosep Nae Soi, saat kunjungan pribadi kepada Uskup Maumere, Mgr. Gerufus Kherubim Parera, SVD (Pos Kupang, 8 September 2018) mengatakan “Izin yang sudah ada dan masih berlaku akan kami cabut. Izin yang sementara proses akan dihentikan”.

“Tambang bukan pilihan yang baik untuk tingkatkan ekonomi rakyat NTT” ujar Viktor Bungtilus Laiskodat pada September 2018 lalu.

Pernyataan dua pemimpin NTT ini bak angin surga, menjanjikan masa depan gemilang tanpa tambang bagi publik NTT.

Janji ini bagi masyarakat di lingkar tambang yang sudah puluhan tahun berjibaku dengan persoalan tambang.

Bukan kesejhteraan yang didapat dari tambang minerba justru kehilangan ruang produksi massal terjadi. Kemiskinan justru makin menjadi jadi. Wajarlah, masyarakat lingkar tambang begitu riang mendengar janji tersebut.

Rupanya, pernyataan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yoseph Nae Soi yang semula memberi harapan bagi masyarakat NTT ternyata berbanding terbalik dengan isi Surat Keputusan (SK) Gubernur NTT No 359/KEP/HK/2018 tentang Penghentian Sementara Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara di Provinsi NTT yang disahkan pada 14 November 2018.

Komentar