Gubernur Viktor: Stop Pakai Kopi Dari Luar NTT

1474
Penulis: galuh
Editor: agus eko
Gubernur Provinsi Nusa Tenggara timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat membuka Rapat Kerja dengan 21 Bupati/Walikota se-NTT di Ayana Hotel, Senin (10/6) pagi.
Share :

LABUAN BAJO-Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), mendorong para Bupati/Walikota se-NTT untuk bekerja sama secara sinergi membangun perekonomian di seluruh wilayah NTT. Pembangunan ekonomi harus menjadi komitmen agar label Provinsi termiskin tidak ada lagi.

“Saya mendorong para Bupati/Walikota untuk bekerja sama secara tersinergi antara Pemprov, Pemkab, Bank NTT, Pelaku ekonomi/koperasi di masing-masing wilayah. Kita harus bangkit, dan keluar dari label sebagai Provinsi termiskin,” tegas Gubernur NTT, Viktor Laiskodat saat membuka Rapat Kerja dengan 21 Bupati/Walikota se-NTT di Ayana Hotel, Labuan Bajo, Senin (10/6) pagi.

Turut hadir dalam Rapat Kerja dengan Tema Membangun Kolaborasi Dalam Mewujudkan Masyarakat Ekonomi NTT ini, Wakil Gubernur NTT, Yosef A. Naesoi, para Pimpinan OPD Provinsi dan Kab/Kota se-NTT terkait, Staf Khusus dan Staf Ahli Gubernur, para Asisten Setda Provinsi NTT, Pimpinan Bank NTT, para pelaku ekonomi dan undangan lainnya

Caranya menurut Gubernur VBL, dengan mengembangkan produk-produk ekonomi lokal dan memasarkannya di antara wilayah Kabupaten/Kota. Jadikanlah NTT sebagai pasar utama dari semua komoditas yang dihasilkan oleh rakyat NTT sendiri.

“Saya yakin NTT ini memiliki produk ekonomi local yang sangat potensial. Kembangkan itu, pasarkan antara Kabupaten, kita harus saling mendukung,” pintanya.

Dikatakannya, kebiasaan mendatangkan produk-produk dari luar harus ditinggalkan. “Kita harus mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk dari luar. Kita harus melakukan perlindungan terhadap semua komoditas ekonomi yang dimiliki, contohnya Kopi. Kopi yang kita miliki sangat luar biasa enak dan menjadi kopi terbaik dunia, tetapi hotel-hotel, restaurant-restorant di NTT masih menggunakan kopi dari luar,” tandasnya

Menurut dia, ke depan penggunaan Kopi luar harus dibatasi bahkan ditiadakan. “Selama saya menjadi Gubernur NTT, saya tidak boleh melihat itu lagi. Saya minta para Bupati/Walikota yang hadir untuk melakukan kontrol di Hotel-hotel dan juga restaurant. Jangan ragu-ragu bertindak. Kita harus bekerja luar biasa dan dengan cara-cara luar biasa juga. Kita punya bawang, cengkeh, ikan, fanili, mete, garam, rumput laut, jagung, padi dan sebagainya tetapi kita belum mengembangkannya dengan baik,” jelasnya.

Dalam rapat kerja tersebut, dia mengajak para Bupati/Walikota untuk merumuskan langkah-langkah konkrit yang dilanjutkan dengan deklarasi Masyarakat Ekonomi NTT.

“Saya ajak, agar pada hari ini, kita rumuskan dan sepakati bersama mendeklarasikan Masyarakat Ekonomi NTT. Kita harus menjadi produsen sekaligus konsumen. Kalau surplus baru ekspor keluar. Utamakan dulu kebutuhan di dalam wilayah NTT sendiri,” tandasnya.

Ditambahkannya, ke depan tugas seorang Bupati/Walikota mungkin semakin berat. Seorang Bupati/Walikota harus turun langsung ke desa-desa untuk melihat pergerakan Ekonomi di desa, pastikan roda perekonomian berjalan.

“Bupati/Walikota harus lihat pergerakan ekonomi di desa-desa, lihat koperasi-koperasi termasuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), ketemu langsung masyarakat setiap saat, pantau dan control. Sedangkan untuk urusan administrasi perkantoran diserahkan kepada Wakil Bupati/Wakil Walikota,” katanya.

Komentar