Kemenpar Promosikan Pariwisata Labuan Bajo di Ajang THINC

20
Penulis: lita rafael
Editor: agus eko
Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru) dan Ketua Kelompok Kerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, Hiramsyah S. Thaib
Share :

BALI-Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memaparkan “Cara Baru Pariwisata Indonesia” dalam konferensi “7th Edition of Tourism Hotel Investment and Networking Conference (THINC)” yang diselenggarakan pada 5 September di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru) dan Ketua Kelompok Kerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, Hiramsyah S. Thaib mengatakan, pariwisata Indonesia memiliki potensi sangat besar. Bahkan Presiden Joko Widodo telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector.

“Dengan telah siapnya dukungan pemerintah untuk 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru), utamanya dukungan infrastruktur transportasi udara, darat, dan laut untuk 4 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika Lombok dan Labuan Bajo Flores), serta telah ditetapkan Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo Flores, maka di tahun 2019-2024 pemerintah berkeyakinan akan bisa terus menggenjot pertumbuhan investasi lebih besar dari periode 2009-2014, minimal tumbuh rata-rata sebesar 25%,” ujarnya.

Dia berharap, pada 2020 mendatang sector pariwisata ini akan menjadi sector prioritas utama dalam perolehan devisa.

Apalagi, pemerintah telah menetapkan target untuk mendatangkan 20 juta wisatawan manca negara dengan proyeksi perolehan devisa bisa mencapai sebesar 17,6 miliar dollar AS.

“Sejalan dengan itu, sector pariwisata juga ditetapkan sebagai core economy Indonesia oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya,” jelasnya.

“Untuk mendukung pencapaian tersebut, Kementerian Pariwisata pada 2018 telah menetapkan 10 program prioritas yaitu: Digital tourism (e-tourism), Homestay, Air accessibility, Branding, Top 10 origination, Top 3 main destination (15 destination branding), Develop 10 new priority tourism destinations, Certified human resources in tourism & tourism awareness movement, Tourism investment growth dan Crisis center management,” terangnya.

Hiramsyah S. Thaib mengatakan, pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat di tahun 2018 sebesar 12,58%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan sector pariwisata dunia yang hanya mencapai 5,6% serta ASEAN yang sebesar 7,4%.

“Saya sangat optimis bahwa kedepannya sector pariwisata akan terus mencatatkan pertumbuhan yang positif sebagai penghasil devisa,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hiramsyah, yang juga mantan banker dan CEO di sector pariwisata, properti, infrastruktur, dan keuangan dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Kawasan Pariwisata Indonesia (AKPI) berharap sektor pariwisata menjadi penyumbang utama devisa pada tahun 2020, karena sector ini memenuhi hampir semua persyaratan yaitu, mudah, murah, cepat, dan juga memenuhi aspek pemerataan ekonomi karena memberikan dampak sampai kelapisan paling bawah atau trickle down effect.

“Industri pariwisata yang baik akan memberikan image positif bagi suatu negara. Oleh karena itu, sector pariwisata juga dikenal sebagai mother industry karena bisa menjadi humas (public relations) dan juga merupakan cara promosi yang paling efektif (country branding) suatu negara,” pungkasnya.

Komentar