WFH Peluang Lahirnya Produk Kreatif Bagi Masyarakat Labuan Bajo

oleh -125 views
Pelaku kerja kreatif event organizer berskala nasional, Matias Mboi
Share :

Oleh: Matis Mboi

Work From Home (WFH) adalah kata yang menjadi trending topic saat ini seiring merebaknya corona virus disease 2019 atau covid-19 yang sedang melanda dunia khususnya di Indonesia.

WFH itu artinya kerja dari rumah sebagai konsekuensi dari himbauan agar selalu jaga jarak atau social distancing sebagai salah satu cara untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona ini.

WFH saat ini diterjemahkan bahwa aktifitas kerja kantoran bagi para ASN dapat dilakukan dari rumah, belajar di rumah bagi pelajar dll. Sehingga himbauan untuk meliburkan warga banyak berlaku bagi para pegawai pemerintah dan juga sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Sedangkan bagi masyarakat umum, WFH diterjemahkan tinggal dirumah untuk tidak keluar rumah baik untuk bekerja maupun sekedar berkumpul atau tongkrong di tempat-tempat umum.

Peringatan agar WFH ini dipatuhi oleh seluruh warga tentu bukan sesuatu yang mudah bagi kebanyakan orang apalagi bagi para pekerja yang berharap dari penghasilan harian. Persoalan ini sarat dialami oleh pekerja-pekerja seperti tukang ojek, pedagang pasar, supir angkutan, nelayan, pemulung, dan masih banyak lagi lainnya.

Apakah negara dalam hal ini pemerintah pusat maupun pemerintah daerah mampu menyediakan anggaran untuk menutupi persoalan harian atau bulanan dari masyarakat di sector tersebut??

Lantas dari mana sumber pendapatan bagi pekerja-pekerja tersebut?? Inilah tantangan yang dihadapi pemerintah juga warga masyarakat dalam merespon himbauan WFH ini ditengah persoalan besar keterbatasan sarana dan prasarana medis dalam menangani wabah covid-19 ini.

Rumitnya implikasi kebijakan WFH ini boleh jadi hampir sama momoknya dengan ketakutan masyarakat terhadap penyebaran virus corona ini. WFH menjadi virus psycologi yang membuat masyarakat berada dalam posisi buah simalakama.

Mau keluar takut terjangkit covid-19 dan tinggal di rumah saja tapi tidak ada yang bisa dimakan selain dibayang-bayangi oleh tuntutan lain seperti bayar kontrakan, air, listrik, bayar sekolah maupun angsuran kredit.

Situasi dan kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja tanpa adanya solusi kreatif baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri.

Bagi daerah yang sedang berkembang dan berharap dari usaha jasa seperti pariwisata di Labuan Bajo dan Flores tentu kondisi ini sangat berpengaruh.

Tidak adanya wisatawan berdampak pada matinya sector-sektor usaha seperti perhotelan, jasa transportasi darat dan laut seperti rental mobil dan rental kapal wisata, aktivitas dive operator, guide juga termasuk lesunya usaha penjualan produk-produk kerajinan.

Salah satu solusi kreatif yang bisa menjadi peluang bagi pemerintah dan masyarakat dalam merespon WFH ini adalah dengan menciptakan berbagai ide pekerjaan home industry yang dapat menjadi salah satu sumber pekerjaan yang memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Pemerintah bisa saja menawarkan sayembara yang mendorong masyarakat membuat bentuk jenis kerajinan baru atau sayembara membuat makanan khas baik makanan basah maupun makanan kemasan yang bisa menambah tawaran dan pilihan produk kekhasan lokal bagi wisatawan.

Contohnya bagaimana masyarakat bisa diasah kreatifitasnya dengan menjadikan gula merah (gola kolang) menjadi berbagai produk makanan kemasan (Gula Jahe, Permen Gula dengan bentuk komodo, Sari Gula dll).

Selain itu juga, pada masa WFH ini pemerintah maupun masyarakat bisa memanfaatkan waktu untuk meningkatkan produksi kerajinan-kerajinan seperti kain tenun, produk anyaman atau kerajinan lain yang bersumber dari alam seperti souvernir dari batok kelapa, kerang dll yang dapat dikerjakan di dalam rumah (home industry).

Peluang berkembangnya home industri sebagai pekerjaan baru memanfaatkan work from home bagi pekerja informal di daerah pariwisata premium Labuan Bajo Flores.

 

Penulis adalah Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *