Jaga Wela Bombang Terorisme

oleh -243 views
Share :

Oleh: Gabriel Mahal, SH

Hari Sabtu (12/5) bertempat di Gedung Auditorium Yustinus Unika Atmajaya, Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) mementaskan “Sanda Jaga Wela Bombang”. Pentas Sanda ini merupakan “opening ceremony” dari Pentas Seni Budaya Manggarai bertajuk “Pati Ati Cahir Nai” yang berintikan pesan berbagi kasih setulus hati.

Sanda merupakan salah satu seni menyanyi dalam gerakan melingkar itu dalam masyarakat adat Manggarai. Sanda “Jaga Wela Bombang” (awas bunga/pecahan gelombang) merupakan lagu yang berisi pesan kewaspadaan terhadap hal-hal yang dapat merusak dan menghancurkan kehidupan kampung dengan segala tata nilai luhurnya. Ini adalah lagu sanda kesukaan saya yang sudah saya nyanyikan sejak di bangku sekolah dasar.

“Lawa go… conda bombang boto rongkas compang… Lawa go pangga pa’ang boto calang tana…” (wahai saudara-saudara, usirlah gelombang agar tidak menghancurkan pusat kehidupan spiritual kampung… wahai saudara-saudara, jagalah batas kampung agar tidak terjadi bencana). Begitu pesan dalam lagu sanda tersebut.

Bombang Terorisme

Pementasan sanda tersebut oleh KPM di tengah peristiwa tragedi aksi terorisme di Mako Brimob, dan menyusul pada hari Minggu (13/5) terjadi peristiwa bom bunuh diri di Surabaya.

Aksi terorisme di Mako Brimob dan di Surabaya itu merupakan “bombang” yang merenggut kehidupan manusia, merusak kedamaian dan menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ibu-ibu KPM, lewat pemantasan lagu sanda tersebut, seakan-akan memberikan pesan pentingnya kewaspadaan dalam menghadapi “bombang” terorisme tersebut. Dalam menghadapi “bombang” terorisme itu kita mesti bersatu seperti terungkap dalam syair sanda Jaga Wela Bombang, “cama koe bantang, rinduk koe wintuks”. Hanya dengan bersatu, kita bisa bersama-sama melawan aksi-aksi terorisme tersebut.

Bombang Terorisme di Manggarai

Panglima Kodam Udayana Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak menyatakan ada puluhan hingga ratusan anggota ISIS yang pulang ke Bali dan Nusa Tenggara. Ada 50 di Bali, 25 di NTT dan 600 di NTB, itu posisinya terkontrol dan dia ‘tidur’. Begitu kata Komaruddin di Denpasar, Bali, pada hari Sabtu (19/8/2017) (http://detik.id/678zzG)

Pada tahun 2017, Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Agung Sabar menyebut wilayah Labuan Bajo, yang berada di Kebupaten Manggarai Barat, rawan dimasuki teroris. Alasannya, Labuan Bajo berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Potensi radikalisme pasti ada. Kita ada beberapa tempat yang kita anggap rawan, seperti di Manggarai Barat, Labuan Bajo, karena berbatasan dengan NTB,” ujar Agung kepada wartawan di Mapolda NTT, Kupang, Senin (21/8/2017). (http://detik.id/6NglaP)

Kita tentu masih ingat penangkapan seorang teroris di Manggarai Barat pada tahun 2015 (https://www.viva.co.id/berita/nasional/615528-satu-terduga-teroris-dibekuk-di-manggarai-ntt)

Hal-hal ini setidak-tidaknya menggambarkan ada potensi besar ancaman terorisme di Manggarai Raya, khususnya di Labuan Bajo yang sedang berkembang jadi destinasi wisata internasional.

Maka, baik pemerintah daerah, pemuka-pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat Manggarai secara keseluruhan perlu tetap selalu waspada terhadap potensi ancaman terorisme ini, sebagaimana pesan leluhur kita dalam sanda Jaga Wela Bombang. Pesan yang kembali diingatkan oleh ibu-ibu KPM pada hari Sabtu (12/5).

Penulis adalah Budayawan Manggarai di Jakarta

Komentar