Adaptasi Model Teror JAD dan Prediksi Kekuatan Paska Bom Surabaya

oleh -426 views
Pengamat Masalah Terorisme, Stanislaus Riyanta
Share :

Oleh: Stanislaus Riyanta

Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah kelompok radikal di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS. Pimpinan JAD saat ini adalah Aman Abdurahman, yang saat ini diduga juga sebagai anggota langsung ISIS yang ditugaskan untuk memimpin kelompok teroris di Indonesia. Aman Abdurahaman saat ini sedang dalam proses hukum dengan tuntutan mati.

JAD adalah kelompok radikal pelaku teror terkuat di Indonesia saat ini. Sejak awal dibentuk, JAD bersumpah setia kepada pemimpin ISIS yaitu Abu Bakr al-Baghdadi. Tidak mengherankan jika aksi-aksi teror yang dilakukan oleh JAD akan diklaim sebagai aksi ISIS. Hal ini tentu juga berhubungan dengan aliran dana bantuan dari ISIS kepada JAD.

Berbagai aksi teror telah dilakukan oleh JAD antara lain di Thamrin (Januari 2016), Samarinda (November 2016), Kampung Melayu (Mei 2017), dan Surabaya (Mei 2018). Dari berbagai aksi teror tersebut diketahui JAD telah melakukan perubahan model teror di setiap aksinya.

Aksi JAD pertama yaitu bom Thamrin diketahui menggunakan kombinasi antara serangan bersenjata dengan bom bunuh diri. Aksi ini tidak mudah karena akan melibatkan banyak anggota yang secara bersama-sama melakukan serangan bersenjata, walaupun dengan senjata ala kadarnya, dan dengan bom bunuh diri.

Di Samarinda, aksi yang dilakukan oleh JAD berbeda tidak serumit di Thamrin. Model yang dilakukan di Samarinda adalah dengan menggunakan bom molotov yang dilempar ke Gereja Oikumene Jl Cipto Mangunkusumo. Aksi ini mengakibatkan 4 anak-anak menjadi korban yang salah satunya meninggal dunia.

Teror di Kampung Melayu menjadi aksi JAD berikutnya. Model yang dilakukan dengan menggunakan bom bunuh diri. Terjadi dua ledakan, yang diperkirakan ledakan pertama sebagai pancingan untuk mengumpulkan massa. Dalam aksi ini 2 pelaku bom bunuh diri tewas dan 3 orang menjadi korban.

Komentar