Kasus Pemerkosa Bule Momentum Pembenahan Kinerja Pramuwisata di Labuan Bajo

oleh -500 views
Pelaku kerja kreatif event organizer berskala nasional, Matias Mboi
Share :

JAKARTA-Perbuatan tercela dari salah seorang pemandu wisata (guide) di Labuan Bajo yang memperkosa dua wisatawan mancanegara merupakan tindakan yang tidak terpuji baik secara profesi maupun secara sosial budaya masyarakat Manggarai Barat (Mabar) yang kental dengan norma agama dan budaya. Untuk itu, predator sex itu perlu di beri sanksi sosial dulu sebelum diserahkan ke aparat hukum.

“Saya sangat mendukung pernyataan pak Bupati Mabar agar pelaku diseret keliling kota sebagai sanksi sosial untuk memberi efek jera kepada pelaku maupun sebagai peringatan kepada seluruh warga agar jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak bermoral seperti ini di Manggarai Barat ini,” ujar pelaku kerja kreatif event organizer berskala nasional, Matias Mboi di Jakarta, Kamis (21/6).

Seperti diberitakan sebelumnya, dunia pariwisata Mabar tercoreng akibat ulah pemandu wisata amatiran berinisial A. Selain memperkosa turis asal Perancis bernama Melani, pria bejat psikopat yang ditenggarai berasal dari Ende Flores ini juga menggagahi seorang wisatawan asal Italia.

Bupati Mabar, Agustinus Ch Dula bernazar ‘kalau pelaku pemerkosaan bule asal Perancis dan Italia ini ditangkap maka pelaku diikat dan diarak keliling kota Labuan Bajo.

“Kalau sudah ketemu, saya harus ikat dia dan saya akan pamer dia keliling kota Labuan Bajo. Ini sudah keterlaluan,” ujar Bupati Gusti dengan nada geram kepada sejumlah pewarta di Labuan Bajo, Kamis (21/6).

Menurut Matias, sikap tegas Bupati Mabar ini harus diapresiasi. Pasalnya, tindakan pelaku sudah mencoreng wajah pemandu wisata yang bukan saja sebagai garda terdepan pariwisata Labuan Bajo tetapi juga sebagai duta budaya Manggarai.

“Perbuatan pelaku telah merusak wajah pariwisata Manggarai Barat. Gara-gara “nila setitik akn rusak susu sebelanga”. Pemerintah, swasta, masyarakat serta seluruh komponen pelaku pariwisata sangat kecewa dn mengutuk keras tindakan pelaku ini,” terangnya.

Matias berharap persoalan ini harus dijadikan pelajaran berarti untuk semakin memperkuat seleksi para pekerja profesional di sektor pariwisata ini.

Karenanya, menjadi Guide tidak hanya punya kemampuan berbahasa Inggris tetapi juga harus memiliki karakter manusia yang kuat secara moral dan budaya.

“Sebagai profesi juga harus kuat memegang etika profesi,” tegasnya.

Komentar