Kasus Pemerkosaan Turis Pesan Bijak Bagi Dunia Wisata Mabar

oleh -233 views
Stanislaus San adalah Praktisi dan Pelaku Pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat
Share :

Oleh: Stanislaus Stan

Kasus pemerkosaan seorang tourist oleh seorang preman asal luar Manggarai yang terjadi baru-baru ini sungguh mengagetkan. Kita semua tentu mengutuk keras sang pelaku. Namun dibalik kasus ini juga mengirim pesan bahwa ini akibatnya juga para touris yang cenderung mencari harga murah sehingga lebih memilih mengujungi obyek wisata tanpa menggunakan jasa tour& travel serta dipandu oleh Guide yang terlatih dan qualified.

Tidak sedikit wisatawan pergi mengunjungi obyek wisata dengan menggunakan sepeda motor rental tanpa dipandu oleh seorang guide. Padahal peran seorang pemandu/ atau guide mutlak diperlukan oleh seorang wisatawan.

Para touris lebih mengandalkan mbah google sebagai guide. Mereka lupa bahwa Google boleh kerjanya melebihi otak manusia, tapi dia tidak punya hati, tidak punya human sense.

Sebagai praktisi/ pelaku usaha pariwisata saya mengutuk keras peristiwa yang memalukan itu. Saya juga menyayangkan sikap semua wisatawan yang mengandalkan kemajuan teknologi demi menghindari biaya mahal ketimbang mengandalkan manusia pemilik Bumi Manggarai Barat ini yang bisa menjamin rasa aman dan nyaman selama mereka menikmati liburannya di daerah ini.

Orang yang diduga pelaku pemerkosaan tersebut, mutlak bukan seorang praktisi pariwisata di Manggarai Barat. Karena semua praktisi pariwisata di sini semua terdata dan sangat menjaga etika profesi sebagai praktisi yang bergerak di industri penjualan jasa pelayanan.

Nah masalahnya , tidak sedikit wisatawan mengabaikan keberadaan para praktisi -praktisi tersebut. Terkadang mereka menggunakan jasa ojek atau rental sepeda motor dan hobi jalan sendiri. Kalau saja di Manggarai Barat ini penghuninya hanya orang – orang Manggarai atau berKTP Manggarai, pasti peristiwa ini tidak terjadi.

Tapi masalahnya pendatang-pendatang liar yang datang ke Labuan Bajo sudah out of control baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat. Sehinga dengan mudah mereka mengaku tour guide padahal preman liar yang tidak jelas identitas.

Kalau hal ini tidak disikapi secara serius oleh Pemerintah, pelaku baik pengusaha maupun profesi yang berkecimpung di dunia pariwisata, saya cemas bahwa peristiwa seperti ini bisa terulang lagi. Karena bisa saja pelaku sengaja disewa pihak lain yang punya kepentingan menghancurkan pariwisata Manggarai Barat yang mendadak mendunia. Persaingan pariwisata antar daerah sangat membuka celah terhadap dugaan -dugaan seperti itu.

Karenanya saya mengharapkan beberapa hal antara lain:

1. Pemerintah harus tegaskan agar semua pemandu pariwisata bergabung di asosiasi yang legal secara Nasional dan wajib mengenakan tanda pengenal asosiasi. Ini untuk memudahkan bagi para wisatawan untuk bisa membedakan antara sopir, ojek, guide dan preman.

2. Pemerintah harus menegaskan melalui regulasi baik Perda ataupun Perbub untuk mengharuskan setiap wisatawan menggunakan jasa pemandu yang memiliki tanda pengenal dari asosiasi masing -masing profesi.

3. Diminta ASITA,HPI,PHRI,dan Asosiasi Diving membuat warning secara bersama dalam bentuk brosur atau apapun yang intinya mengingatkan setiap wisatawan untuk memastikan diri mereka dipandu oleh orang-orang yang terdata dan terlatih. Brosur warning ini pun wajib dipajang di setiap hotel, restaurant, kapal-kapal, bahkan di setiap pesawat terbang yang masuk Labuan Bajo.

Peristiwa pemerkosaan terhadap para wisatawan beberapa hari lalu itu , tidak cukup hanya dengan mengutuk dan menghukum pelaku. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana peristiwa seperti ini tidak akan ada peluang untuk bisa terjadi lagi di kemudian hari.

Penulis adalah Praktisi dan Pelaku Wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat

Komentar