Menimbang Mencetak Uang

oleh -1.040 views
MH. Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR RI yang Juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian
Share :

Sebab bila Bank Indonesia menjalankan instrument membeli SUN/SBSN repo dari bank dengan bunga 2% dan memberikan bantuan pada perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas dalam jangka waktu tertentu, masih ditambah mengguyur dengan mencetak uang, maka tekanan inflasinya akan sangat tinggi.

Sebagai Negara emerging market, Indonesia tidak memiliki cadangan devisa (cadev) yang tidak begitu besar dibandingkan dengan tetangga.

Akhir 2019 lalu cadev kita 129,2 miliar USD, Thailand mencapai 221 miliar USD, dan Singapura 292 miliar USD. Jadi cadev bukanlah senjata utama membantu likuiditas.

Melihat kebutuhan yang mendesak tersebut, Bank Indonesai bisa mencetak uang sekitar Rp. 400-600 Triliun. Dengan demikian, sektorperbankan dan UMKM, akan bisa sedikit bernafas lega dalam mengatur likuiditasnya dan kredit yang dimilikinya.

Kebijakan Cetak Uang tersebut, bisa digunakan oleh BI untuk membantu program pembiayaan dan restrukturisasi perbankan nasional yang tengah mengalami kesulitan likuiditas dan program non perbankan lainnya, khususnya untuk membantu restrukturisasi kredit dan permodalan sektor UMKM.

Pada Februari 2020 uang beredar tercatat Rp 6.116,5 triliun atau tumbuh 7,9% (year on year/ yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,1% (yoy).
Bila Bank Indonesia mencetak uang sejumlah Rp. 600 triliun, maka ada pertumbuhan uang beredar sebesar 9,8% sejak Februari.

Mencetak uang dengan yield sebesar 2-2,5 persen menurut saya sudah harus memperhitungkan angka inflasi yang akan ditimbulkannya.

Namun kebijakan ini tetap berada dalam koridor Independensi Bank Indonesia. Artinya biaya operasi moneter Bank Indonesia tersebut tidak boleh dibebankan kepada Pemerintah.

Oleh sebab itu, besaran yieldnya tersebut, tidak boleh lebih rendah dari biaya operasi moneter Bank Indonesia, agar tidak menimbulkan kerugian bagi Bank Indonesia, serta tidak menyebabkan modal BI lebih rendah 10 persen dari kewajiban moneternya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *